Matematika tidak penting? Bukan itu yang saya maksud. Coba kita renungkan kembali pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah. Secara khusus kita ambil perhatian, yaitu Matematika. Sudah menjadi keharusan bagi setiap manusia untuk belajar matematika. Banyak sebutan untuk benda bernama matematika ini. Ada yang menyebut: Math is Queen of Science, Math is King of Science, Math is Servant of Science. Ada pula sebutan: Matematika adalah alat bantu ilimu-ilmu lain. Juga beberapa menyebutkan bahwa matematika adalah sebuah bahasa berpikir yang kita namakan logika. Atas dasar itu, ada sinisme: yang membedakan antara binatang dan manusia adalah seni dan matematika. Artinya, binatang tidak mempunyai keduanya itu.
Lho ... lalu, kok matematika tidak penting?
Tentu permasalahannya tidak sesederhana itu. Ini dikaitkan dengan pendidikan matematika yang ada di sekolah. Selama saya menjadi pengajar di sebuah sekolah, dan juga saya amati kecenderungan sistem pembelajaran matematika, sangatlah terasa bahwa para siswa "diharuskan" menguasai semua mata pelajaran yang guru berikan. Jadi semua pelajaran adalah mutlak penting dan tanpa toleransi.
Ambil saja matematika. Matematika memang penting karena alasan-alasan yang saya sebut di atas. Tapi matematika yang bagaimana? Apakah matematika yang "sesulit itu"? Apakah pentingnya matematika yang "sesulit itu"? Lalu, apakah semua siswa "wajibkan" untuk mempelajari matematika yang "sesulit itu"? Apakah semua orang yang harus mempelajari matematika "sesulit itu" memang mempunyai minat yang cukup besar untuk itu? Apakah potensi siswa pasti hanya matematika?
Saya pernah bertanya di hadapan para siswa: "Siapa di kelas ini yang suka matematika?" Bagi saya ini sebuah pertanyaan retoris. Sudah pasti tidak ada yang mau menjawab. Atau saya tarik garis kesimpulan bahwa sebagian besar siswa tidak suka matematika. Alasannya klasik, masa depan mereka tidak menggunakan matematika yang "sesulit itu"! Kalau cita-cita mereka ingin jadi disainer, apa perlu mempelajari matematika yang "sesulit itu"? Juga bagi mereka yang ingin jadi musisi, fotografer, koki, farmer? Atau semua siswa hendak kita program untuk jadi matematikawan? Fisikawan? Bahkan untuk jadi seorang dokterpun nantinya matematika yang "sesulit itu" tidak akan digunakan.
Tapi ada argumen: matematika kan bisa untuk melatih daya logika siswa. Memang betul. Tapi tidak dengan menjejali dengan matematika yang "sesulit itu".
Nah di sinilah letak "tidak penting"nya itu. Matematika jauh lebih ditonjolkan daripada lebih menggali potensi dan talenta siswa. So, bagaimana kita menyikapi ini semua dengan cara membuat tawar-menawar yang pas.
Selamat belajar matematika.